Presiden Tanggapi Antazari Soal Century: Pilihlah Cara yang Patut dan Beretika

oleh

Setelah cukup lama diam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu (15/8) malam akhirnya memberikan reaksi atas pernyataan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antazari Azhar mengenai adanya pertemuan di Istana pada 9 Oktober 2008 lalu, yang membahas soal bail out Bank Century.

Presiden yang didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam dan sejumlah Staf Khusus Presiden membantah pernyataan Antazari bahwa pertemuan pada 9 Oktober itu membahas Bank Century.

“Saya katakan malam ini di hadapan Allah SWT, bahwa sama sekali tidak ada, tidak ada yang menyinggung nama Bank Century, apalagi membahas yang dinamakan bail out Bank Century,” tegas Presiden SBY.

Berikut tanggapan lengkap Presiden SBY kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/8) malam, mengenai pertemuan 9 Oktober 2008.

Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi wabarokatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.

Saudara-saudara sebenarnya saat ini saya sedang berkonsentrasi untuk mempersiapkan rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan kita 2012 ini, termasuk tengah menyiapan pidato saya yang insyaallah akan saya sampaikan besok di hadapan sidang bersama DPR-RI dan DPD-RI, baik pidato pagi hari yaitu pidato kenegaraan maupun pidato malam hari, pidato yang berkaitan dengan RAPBN 2013 dan nota keuangannya. Juga saudara tahu kita semuanya tengah menjalankan ibadah puasa.

Saya katakan malam ini di hadapan Allah SWT, bahwa sama sekali tidak ada, tidak ada yang menyinggung nama Bank Century, apalagi membahas yang dinamakan bail out Bank Century. Namun karena ada berita dan informasi yang berkembang sekarang ini yang harus saya luruskan. Ada sejumlah pandangan yang disampaikan kepada saya, “Pak SBY tidak usahlah itu ditanggapi nanti lama-lama akan hilang sendiri”, ada yang berpandangan seperti itu. Tetapi sebaliknya banyak yang mengatakan, “Pak SBY tolonglah dijelaskan kepada rakyat, diluruskan, jangan sampai hal-hal begitu terus terjadi di negeri tercinta ini karena ini menyangkut kebenaran. Begitu. Oleh karena itu saudara-saudara, setelah saya pikirkan dan renungkan dalam-dalam lebih baik saya menyampaikan penjelasan pada malam hari ini, di bulan suci Ramadhan ini agar yang hadir adalah kebenaran.

Saya juga ingin dengan penjelasan saya ini melalui saudara-saudara semua, rakyat juga mendapatkan berita atau informasi yang benar. Saya harus mengatakan, kalau kita suka mempermainkan kebenaran sama saja kita mempermainkan Tuhan. Oleh karena itu saya prihatin di tengah bulan suci Ramadhan masih ada pihak yang menyebarkan berita yang tidak benar, yang boleh dikatakan itu kebohongan.

Apa berita itu? Para wartawan sudah mengetahuinya bahkan barangkali juga ikut meliputnya, memberitakannya, tetapi saya ingin menyampaikan semua yang akan saya sampaikan ini untuk rakyat Indonesia. Saudara-saudara tercinta di seluruh tanah air berita itu adalah, saya mendengar Metro TV dalam sebuah acara mengangkat berita ini, yang katanya bersumber dari Sdr. Antazari, mantan Ketua KPK, yang mengatakan (yang terus bergulir) awal Oktober 2008, Presiden SBY memimpin pertemun yang dikatakan di dalamnya membahas bail out Bank Century. Inilah yang akan saya luruskan karena berita ini disamping tidak benar, juga menyesatkan.

Berita yang benar adalah memang ada pertemuan yang kami laksanakan pada 9 Oktober 2008. Siapa yang hadir? Disamping para menteri dan anggota kabinet yang mendampingi saya, adalah para penegak hukum dan auditor, dalam hal ini Ketua BPK Pak Anwar Nasution, Ketua KPK Pak Antazari, Jaksa Agung Pak Hendarman Supandji, Kapolri Pak Bambang Hendarso, dan Ketua BPKP Pak Didi Widayadi. Apa tujuannya? Kita ingin bertukar pikiran dan berkonsultasi untuk satu tujuan penting bagaimana kita bisa mengantisipasi kemungkinan datangnya krisis di negeri kita.

Sesungguhnya pertemuan tanggal 9 Oktober itu rangkaian dari pertemuan sebelumnya, yaitu pertemuan 6 Oktobr 2008 yang kita laksanakan di Gedung Sekretariat Negara, yang dihadiri oleh KIB I, kemudian pimpinan BUMN, Kadin, para ekonom, bahkan unsur media massa. Kemudian pertemuan 9 Oktober itu ada banyak pandangan, supaya dalam situasi krisis tidak ada ketakutan dan keragu-raguan, mereka berharap saya sebagai Presiden berkomunikasi dengan para auditor dan penegak hukum untuk menyamakan persepsi kita atas perkembangan situasi yang ada waktu itu.

Untuk diketahui setelah pertemuan saya dengan auditor dan penegak hukum itu, maka beberapa hari kemudian saya lanjutkan pertemuan saya dengan para gubernur se Indonesia karena kita harus sekali lagi berkolaborasi, bersama-sama menghadapi dan mengatasi krisis, sehingga Insyaallah krisis bisa kita cegah untuk meruntuhkan perekonomian kita. Pengalaman tahun 1998 dari apa yang kami pelajari, kebersamaan itu terasa kurang sehingga sulit sekali untuk mengatai krisis.

Kembali kepada pertemuan 9 Oktober2008, sudah saya sebutkan siapa yang hadir, tujuannya apa, dan konteksnya juga seperti apa. Urutan pertemuan itu, saya menyampaikan pengantar tentang perkembangan situasi dunia, dan seperti apa dampak serta implikasinya terhadap perekonomian Indonesia. Setelah itu satu demi satu, kecuali para menteri, itu menyampaikan pandangannya, dimulai pandangan Ketua BPK Pak Anwar Nasution terus saya respon secara singkat, dilanjutkan dengan pandangan Ketua KPK Pak Antazari saya respon secara singkat, dilanjutkan lagi pandangan Jaksa Agung juga saya respon, pandangan Kapolri juga saya respon, dan terakhir pandangan Kepala BPKP juga saya respon. Dan akhirnya kita akhir pertemuan itu. Yang mendampingi saya tidak bicara, waktu itu hadir Menko Polhukam Pak Widodo AS, Menko Perekonomian Ad interim Ibu Sri Mulyani, Mensesneg Pak Hatta Rajasa, Seskab Pak Sudi Silalahi, dan kemudian Menteri BUMN Pak Sofyan Jalil. Para menteri tidak berbicara.

Nah sekarang yang diramaikan, sekali lagi katanya dalam pertemuan itu dibicarakan atau dibahas bail out Bank Century, sayakatakan malam ini di hadapan Allah SWT, bahwa sama sekali tidak ada, tidak ada yang menyinggung nama Bank Century, apalagi membahas yang dinamakan bail out Bank Century.

Saudara-saudara dokumentasi pertemuan itu lengkap, baik itu rekaman kasetnya, tayangan video pada awal atau pembukaan, foto-foto documentasi, dan kalau mau ditambahkan catatan dari masing-masing menteri yang hadir di situ karena bisa saling mencocokkan apa saja yang dibicarakan waktu itu. Transkrip lengkap akan saya bagikan pada malam ini, silahkan dibaca nanti, utuh, silahkan. Ada tidak kata-kata Bank Century apalagi bail out Bank Century.

Saudara-saudara politik itu memang punya banyak cara, tetapi pilihlah cara yang patut dan beretika. Menyebarkan berita yang tidak benar atau berita bohong bukanlah politik yang baik. Terus terang saya lega setelah membaca statemen pengacara Pak Antazari, yaitu saudara Maqdir Ismail. Saya baca isi pernyataan beliau, benar ada pertemuan awal Oktober yang saya pimpin dan Pak Antazari hadir sebagai undangan, dan disampaikan oleh pengacara Pak Antazari bahwa tujuannya adalah untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya krisis ekonomi seperti tahun ’97-‘98. Disampaikan dengan jelas oleh Saudara Maqdir Ismail, pertemuan tidak membahas atau membicarakan bail out bank century.

Jika tidak ada pernyataan dari pengacara Pak Antazari, semula saya ingin Pak Antazari membaca transkrip dari pertemuan itu, termasuk ucapan Pak Antazari sendiri, ucapan saya, dan ucapan-ucapan yang lain. Siapa tahu Pak Antazari lupa atau khilaf. Tetapi dengan penjelasan pengacara Pak Antazari itu saya lega terus terang, karena sudah seperti diluruskan sendiri.

Saudara-saudara kalau nanti membaca disitu pandangan dan tanggapan Pak Antazari sebagai Ketua KPK, maka disitu sangat jelas, gamblang, bahkan konstruktif. Saya menilai pandangan Pak Antazari cukup jernih waktu itu, dan nada pembicaraan semua relatif sama. Kata-kata Pak Antazari, kata-kata saya dan siapapun juga tidak menyebut sama sekali kata-kata Bank Century.

Dengan penjelasan ini saudara-saudara, saya ingin menyampaikan seruan dan ajakan kepada saudara-sauaraku rakyat Indonesia, marilah kita ini tetap ingat dan sadar untuk senantiasa menjaga ucapan, sikap dan perilaku kita. Apalagi mayoritas dari kita sekarang ini sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Sekali lagi sebagai Kepala Negara, saya juga mengajak janganlah kita mudah mempermainkan kebenaran. Mari kita berpolitik dengan cara-cara yang ksatria dan bermartabat.

Itulah yang ingin saya sampaikan, saya tidak ingin berpanjang lebar tetapi saya sampaikan dengan penuh rasa tanggung jawab, dengan niat yang baik agar dalam suasana memperingati Hari Kemerdekaan, menjalankan ibadah puasa tidak baik kalau ada kesangsian, atau keragu-raguan, atau barangkali persepsi yang keliru kepada saya yang sedang mengemban amanah karena berita yang bergulir itu (yang tadi sudah saya jelaskan). Saya mengucapkan terima kasih kepada insan pers dan media massa yang berkenan meneruskan statemen saya ini kepada seluruh rakyat Indonesia.

Terima Kasih

Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sumber: Sekretaris Kabinet

Editor: Sarbini