Hampir 2 Pekan Pasca Lebaran Pemudik Masih Penuhi Jateng

oleh

Kendaraan pemudik yang berasal dari luar Jawa Tengah hingga saat ini masih menjejali beberapa ruas-ruas jalan di kota-kota besar di wilayah Jateng.

Kondisi ini menyebabkan kemacetan di beberapa titik, khususnya di Kota Semarang yang tingkat kemacetannya semakin hari semakin meninggi.

Dari data yang berasal dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Provinsi Jateng, hingga H+7 lebaran masih ada sekitar 285.087 kendaraan pemudik yang masih berada di Jateng.

Kendaraan para pemudik tersebut didominasi kendaraan roda dua sebanyak 253.272 unit dan mobil pribadi sebanyak 31.815 unit masih berada di Jateng.

Kepala Dishubkominfo Provinsi Jateng, Urip Sihabudin mengatakan, dari hasil pencatatan di sejumlah titik perbatasan dan akses keluar masuk di Jateng, kendaraan pemudik memasuki Jateng tercatat sampai H+2.

Jumlah kendaraan pribadi yang masuk hingga tanggal tersebut tercatat sebanyak 1.057.887 unit kendaraan roda dua dan empat. Namun hingga musim arus balik berakhir yakni hingga 27 Agustus, masih terdapat 285.087 unit kendaraan pribadi yang belum meninggalkan Jateng.

Dari hasil traffick counting atau penghitungan kendaraan dengan alat hitung tertentu, pada masa mudik kendaraan pribadi jenis sepeda motor yang masuk Jateng sebanyak 728.647 dan yang baru meninggalkan Jateng sebanyak 950.750 unit sepeda motor, masih ada sisa sekitar 253.272 unit. Begitu juga dengan mobil pribadi masih banyak yang belum keluar dari Jawa Tengah.

“Kondisi ini yang juga turut mempengaruhi kemacetan di berbagai kota-kota di Jateng. Terlebih jumlah kendaraan yang masuk Jateng didominasi oleh kendaraan roda dua,” kata Urip, Kamis (30/8).

Dijelaskannya, jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 14,88 persen dari tahun 2011 yang hanya sebanyak 634.426 unit. Namun pengguna mobil pribadi mengalami penurunan sebesar 4,09 persen dari tahun sebelumnya, yang jumlahnya sebanyak 343.278 unit mobil pribadi.

“Penurunan juga terjadi pada moda kereta api (turun 27,98 persen) dan kapal laut (turun -47,80 %). Tapi pesawat udara mengalami peningkatan sebesar 24,53 persen,” terangnya. **

Editor : Wisanggeni