Jumat, 29 Mei 2015 | 15.03 WIB
Jateng Time

Sambut Puasa, Kudus Gelar Tradisi Dhandhangan

Humas/redaksi  |  Kudus | Jumat, 20 Juli 2012 - 15.22 WIB | Dibaca: 482 kali
IMG-992

Kudus – Dhandhangan merupakan sebuah tradisi yang telah melekat dengan kehidupan masyarakat Kudus. Keberadaannya harus tetap dijaga, karena telah menjadi warisan budaya. Demikian yang dikatakan oleh Bupati Kudus, H. Musthofa saat menyampaikan sambutan pada acara Visualisasi Tradisi Dhandhangan yang digelar di alun-alun simpang tujuh Kudus,kemarin.

“Menjadi tugas kita bersama untuk nguri-uri apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita”, katanya. Bupati mengatakan tahun ini penyelenggaraannya berbeda dengan sebelumnya. Kali ini berbagai kuliner khas Kudus ikut ditampilkan. Mulai dari jenang hingga intip ketan. Bupati juga menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Kudus yang selalu antusias terhadap gelaran budaya yang diadakan di Kudus.

Dalam acara tersebut, ditampilkan visualisasi proses munculnya tradisi Dhandhangan. Barisan kirab yang diperankan oleh ratusan pelajar kota Kretek ini, satu demi satu memperagakan adegan yang telah ditentukan. Di mulai dari penggambaran kesibukan saat mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang biasanya ditandai dengan tradisi resik-resik kubur atau nyadran.

Kemudian pada adegan berikutnya muncul barisan para wali yang tengah mengadakan musyawarah, yang diikuti oleh para santri Sunan Kudus. Sosok Sunan Kudus lekat dengan perjuangannya dalam menyebarkan Islam melalui rasa toleransi yang tinggi. Salah satunya adalah adanya larangan menyembelih sapi pada jaman tersebut, untuk menghormati para pemeluk agama Hindu.

Terakhir, munculah adegan dimana para penjual menggelar dagangannya di dekat Masjid Menara Kudus. Mereka mrema para warga yang datang hendak menunggu pengumuman jatuhnya awal puasa Ramadhan dari Sunan Kudus. Kemudian datang saat dimana Sunan Kudus menabuh bedhug setelah memberi pengumuman tersebut. Bunyi bedug yang dipukul (dang dang dang) itulah yang kemudian menjadi asal mula kata Dhandangan.

Dhandhangan sendiri biasanyanya mulai satu minggu menjelang Ramadhan. Bentuknya hampir mirip dengan pasar malam, walaupun kenyataannya siang hari juga dibuka. Namun memang pengunjung paling ramai datang pada malam hari. Para pedagang menggelar dagangan di lapak-lapak yang disediakan untuk mereka sepanjang jalan Sunan Kudus. Ada banyak yang dijual di Dhandhangan ini, mulai dari barang pecah belah, makanan dan minuman, hingga mainan anak-anak. (Kontributor Humas Kudus-Erwin)

Ukuran Font  
Kali ini berbagai kuliner khas Kudus ikut ditampilkan. Mulai dari jenang hingga intip ketan. Bupati juga menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Kudus yang selalu antusias terhadap gelaran budaya.
Cetak

POLRES DEMAK MENGADAKAN LOMBA SISKAMLING POLRES DEMAK MENGADAKAN LOMBA SISKAMLINGDemak,. Lomba ini dimaksutkan untuk menumbuh kembangkan lagi siskamling di desa desa yang sekarang mulai dirasakan berkurang atau dapat dikatakan mulai tidak ada. putaran pertama penilaian oleh tim yang dipimpin AKP Sutomo berlokasi di desa Medini yang mewakili kecamatan Gajah kabupaten Demak pada hari selasa, 19/05/2015. Tim penilai tiba di desa Medini pukul 21.wib disambut [...]

No Image Selama Setahun, LGN-OTA Santuni 854 Anak Asuh-Selama tahun 2014, Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (LGN-OTA) Kabupaten Jepara berhasil memberikan bantuan kepada 854 anak asuh dan 25 siswa terancam putus sekolah.

No Image Mutiara Karangbolong Ditampilkan di TMII – JakartaRatusan pengunjung memadati Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta, Minggu (22/3).

No Image Penurunan Nikah Dini Terganjal UU PernikahanPernikahan dini merupakan salah satu pemicu tingginya angka kematian ibu melahirkan (AKI) di Jawa Tengah

Ads