Rabu, 23 April 2014 | 21.43 WIB
Jateng Time

Sambut Puasa, Kudus Gelar Tradisi Dhandhangan

Humas/redaksi  |  Kudus | Jumat, 20 Juli 2012 - 15.22 WIB | Dibaca: 273 kali
IMG-992

Kudus – Dhandhangan merupakan sebuah tradisi yang telah melekat dengan kehidupan masyarakat Kudus. Keberadaannya harus tetap dijaga, karena telah menjadi warisan budaya. Demikian yang dikatakan oleh Bupati Kudus, H. Musthofa saat menyampaikan sambutan pada acara Visualisasi Tradisi Dhandhangan yang digelar di alun-alun simpang tujuh Kudus,kemarin.

“Menjadi tugas kita bersama untuk nguri-uri apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita”, katanya. Bupati mengatakan tahun ini penyelenggaraannya berbeda dengan sebelumnya. Kali ini berbagai kuliner khas Kudus ikut ditampilkan. Mulai dari jenang hingga intip ketan. Bupati juga menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Kudus yang selalu antusias terhadap gelaran budaya yang diadakan di Kudus.

Dalam acara tersebut, ditampilkan visualisasi proses munculnya tradisi Dhandhangan. Barisan kirab yang diperankan oleh ratusan pelajar kota Kretek ini, satu demi satu memperagakan adegan yang telah ditentukan. Di mulai dari penggambaran kesibukan saat mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang biasanya ditandai dengan tradisi resik-resik kubur atau nyadran.

Kemudian pada adegan berikutnya muncul barisan para wali yang tengah mengadakan musyawarah, yang diikuti oleh para santri Sunan Kudus. Sosok Sunan Kudus lekat dengan perjuangannya dalam menyebarkan Islam melalui rasa toleransi yang tinggi. Salah satunya adalah adanya larangan menyembelih sapi pada jaman tersebut, untuk menghormati para pemeluk agama Hindu.

Terakhir, munculah adegan dimana para penjual menggelar dagangannya di dekat Masjid Menara Kudus. Mereka mrema para warga yang datang hendak menunggu pengumuman jatuhnya awal puasa Ramadhan dari Sunan Kudus. Kemudian datang saat dimana Sunan Kudus menabuh bedhug setelah memberi pengumuman tersebut. Bunyi bedug yang dipukul (dang dang dang) itulah yang kemudian menjadi asal mula kata Dhandangan.

Dhandhangan sendiri biasanyanya mulai satu minggu menjelang Ramadhan. Bentuknya hampir mirip dengan pasar malam, walaupun kenyataannya siang hari juga dibuka. Namun memang pengunjung paling ramai datang pada malam hari. Para pedagang menggelar dagangan di lapak-lapak yang disediakan untuk mereka sepanjang jalan Sunan Kudus. Ada banyak yang dijual di Dhandhangan ini, mulai dari barang pecah belah, makanan dan minuman, hingga mainan anak-anak. (Kontributor Humas Kudus-Erwin)

Ukuran Font  
Kali ini berbagai kuliner khas Kudus ikut ditampilkan. Mulai dari jenang hingga intip ketan. Bupati juga menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Kudus yang selalu antusias terhadap gelaran budaya.
Cetak

No Image Pembuatan Sim Kolektif Prajurit Yonarhanudse-10Untuk menegakkan disiplin dalam berlalu Lintas Satuan Yonarhanudse-10/1/Falatehan Kodam Jaya mengadakan koordinasi dengan Pihak Satpas Polda Metro Jayauntuk membuat SIM secara Kolektif

No Image Alami Gangguan Jiwa, Agus Nekat Gantung DiriAgus Sugianto (30) ditemukan tewas gantung diri di kamar rumahnya, dukuh Kedokanjati RT 07 RW 01, desa Serang, kecamatan Petarukan, kabupaten Pemalang.

No Image Pembekalan Tipping Point Leadership Oleh Danrem 051/WKTKomandan Korem 051/Wkt Kolonel Inf Rudianto, memberikan pembekalan kepada Para Dandim, Para Kasi,Para Perwira Staf Korem 051/Wkt, Bertempat ruang data Lt 2 Makrem 051/Wkt

No Image Besok, Tim PGRI Kab Cirebon Bertolak Ke Malang Serahkan Bantuan Korban Gunung KeludKorban erupsi gunung Kelud yang terjadi beberapa waktu lalu ternyata mengugah rasa keprihatinan berbagai pihak tak terkecuali Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Ads