GAFATAR SUDAH CUCI OTAK PENGIKUTNYA DARI JATENG

images (2)

Semarang – Sebanyak 359 anggota eks-Gafatar Senin (25/1/2016) pagi tiba di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Kedatangan mereka ditemui Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP.

Gubernur Ganjar Pranowo mengajak berdialog kepada sejumlah anggota eks-Gafatar dan mereka mengaku mau ke Kalimantan Barat hanya untuk bertani dan memperbaiki kehidupan ekonominya. Mereka tidak mendapatkan ajaran tertentu yang dinilai menyimpang.

Saya cuma diajari bertani. Katanya ada isu-isu merekrut atau apa itu nggak benar. Terus katanya kita tidak menjalankan shalat, itu juga tidak benar. Saya tetap shalat. Kalau ada yang tidak shalat, itu kembali pada keimanan masing-masing…” kata Doni (30) warga eks-Gafatar asal Bantul, Yogyakarta saat ditanya Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP di ruang transit Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Rini (41) yang juga warga eks-Gafatar asal Bantul, Yogyakarta menuturkan menjual rumahnya seharga Rp 200 juta untuk berangkat ke Pontianak. Alasannya, ingin memulai hidup baru bersama suami dan anak-anaknya. Uang itu untuk membuka lahan dan mengontrak rumah. Ketika disinggung apakah dia menjalankan ajaran agamanya, dia berterus terang mengatakan tidak.

Warga eks-Gafatar lain asal Wonogiri, Suswati (54) dan anaknya Uji Hardianto (18) mengatakan sudah betah di Rasau meskipun baru tinggal empat bulan dan hanya mengelola tanah seseorang yang diakuinya sebagai teman. Tanah seluas 4,5 hektare itu juga dikelola bersama-sama dengan rekannya yang lain.

“Tanah itu milik kita bersama. Yang tanggungjawab bersama. Dikelola juga bersama.  Status tanah sudah bersertifikat atas nama seseorang. Semua anggota pernah diperlihatkan sertifikatnya. Nanti hasil mengolah tanah dibagi-bagi untuk kita sendiri…” jelas Uji dan Suswati.

Saat ditanya soal ibadahnya, keduanya yang beragama Islam menyampaikan tidak menjalankan shalat. mereka menuturkan tidak ada yang melarang mereka tidak beribadah.

“Dulu waktu di Wonogiri shalat. Sekarang tidak, tapi bukan karena tidak boleh shalat. Dulu shalat cuma ikut-ikutan saja. Tidak tahu ilmunya walaupun di SD dan SMP mendapat pelajaran itu. Kita di sana bertani saja…” ujar Uji.

Mendengar penuturan mereka, Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan informasi yang diperolehnya dari berdialog mengkonfirmasi bahwa ajaran Gafatar sebenarnya ada, meskipun mereka tidak ada yang mengakui. Mereka pandai berdalih cuma diajari menanam.

“Tadi ada anak SMA yang kelihatan siap betul. Artinya, kalau saya liat dari cara dia ngomong, apa yang menjadi indoktrinasi sudah masuk. Dulu shalat, sekarang nggak. Mengaku nggak paham. Padahal dari SD sampai SMP mendapatkan pendidikan agama. Nggak mungkin orang yang pernah mendapat pendidikan agama nggak paham. Jawaban itu jelas mengkonfirmasi ajaran-ajaran itu sebenarnya terjadi…” jelas Ganjar.

Ganjar juga mendapatkan informasi bahwa rata-rata mereka mengaku merantau karena ingin mencari kehidupan baru. Keinginan ini ditengarai membuka peluang mereka menjadi objek untuk bisa diajak dan dipengaruhi. Oleh karena itu untuk membantu memperbaiki kehidupan ekonomi mereka, Pemprov Jateng bersedia memfasilitasi warganya. Namun, akan dilakukan assessment terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan mereka ke depan.

“Kalau mereka memang butuh keterampilan dan sebagainya kita bisa bantu. Bisa kita koordinasikan dengan Pemkab/ Pemkot. Nanti kita ukur kekuatan dia. Mau jadi pedagang kita kasih modal usaha, atau ingin menjadi petani penggarap kita ajari bertani…” imbuh Ganjar.

Untuk menjaga mereka tidak kembali ke Gafatar, Pemerintah harus melakukan sosialisasi terus menerus dengan melibatkan banyak pihak termasuk gerakan-gerakan radikal sehingga deradikalisasi mereka semakin muncul.

Gafatar tidak termasuk kelompok radikal. Tapi berdasar riset, Gafatar perlu diwaspadai karena targetnya bukan jangka pendek tapi Gafatar punya target jangka panjang….” tandasnya.

Dari Pelabuhan Tanjung Emas semarang, ratusan anggota eks-Gafatar dibawa ke tempat penampungan di Asrama Haji Donohudan Boyolali. Mereka akan ditampung selama lima hari. Namun, sebelum diberangkatkan mereka menjalani pendataan dan cek kesehatan terlebih dahulu.

“Mereka ditampung untuk memberikan kelonggaran bagi mereka yang sudah menempuh perjalanan tiga malam. Beberapa dari mereka juga ada yang sakit gejala malaria dan DB. Anak-anak dan ibu hamil menjadi prioritas  utama supaya tidak mengalami shock pcyikologi karena pengaruh pikiran dan kelelahan…” tutur Kepala Biro Humas Setda Jateng Drs Sinoeng N Rachmadi MM menambahkan.

( jt-humas jateng )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.