BUPATI DEMAK BLUSUKAN LIHAT LANGSUNG KONDISI WARGANYA

oleh

Jatengtime.com-Demak-Bupati Demak HM.Natsir didampingi Sekda dr. Singgih Setyono, M. Kes, pejabat fungsional dan Baznas, Selasa (27/11/2018) melakukan “ blusukan dari desa ke desa “ ( Road Shaw ) di sejumlah desa pesisir kecamatan Wedung, Bonang dan karangtengah untuk melihat langsung keadaan warganya.

Bukan bermaksud kurang percaya dengan kinerja aparat pemerintahan desa maupun kecamatan, namun MH. Natsir merasa mempunyai kewajiban moral untuk meluangkan waktu disela kesibukanya berinteraksi langsung dengan keadaan ekonomi, sosial dan potensi warganya sekaligus memberikan sejumlah bantuan sekedar untuk rehab rumah yang dinilai kurang layak huni.

Natsir menyatakan banyak masukan bahkan keluhan dari warga Demak yang diterima melalui laporan aparat desa, kecamatan pejabat fungsional maupun laporan langsung warga melalui jejaring sosial yang mengharuskan bupati untuk turun langsung menemui warga.

“ Banyak masukan yang saya terima baik lewat aparat pemerintah maupun jejaring sosial yang memang menjadi tugas dan tanggung jawab saya untuk menemui dan melihat langsung keadaan warga maupun potensi warga yang layak kita bantu. Selanjutnya hasil dari pertemuan saya nantinya akan kita bahas bersama dengan jajaran terkait untuk mencari solusi yang terbaik dan bijaksana…” kata HM. Natsir.

Masukan dari warga nyata di lihat sendiri oleh Bupati dan rombongan bagaimana keadaan masyarakat desa yang dikunjungi masih ditemukan beberapa masalah sosial ekonomi yang mendasar, namun seperti di desa Tedunan, kecamatan Wedung, bupati melihat langsung potensi warganya yang menjadi buruh tenun yang mendapat order dari kabupaten tetangga ( Jepara ) dan tidak ada salahnya pemerintah Demak mendorong kepada para buruh ini untuk menjadi mandiri melalui beberapa program yang akan dipikirkan bersama.

“ Kita lihat sendiri ternyata banyak warga kita yang mempunyai potensi yang luar biasa walau masih sebatas sebagai buruh. Sebagai aparat pemerintah, tidak ada salahnya jika kita pikirkan bersama agar mereka tidak hanya menjadi buruh tapi menjadi pengrajin yang mandiri dan insyaallah tidak ada yang tidak bisa kita bantu untuk kepentingan warga Demak melalui musyawarah dengan berbagai pihak. Ini semua kita lakukan untuk kepentingan warga Demak…” imbuh HM.Natsir.

Di desa Gebangarum bupati Demak dan rombongan melihat langsung keadaan insfrastruktur unik “ Jembatan berjalan “ ( menggunakan perahu yang dikaitkan dengan tambang ) di desa Gebangarum, kecamatan Bonang yang menghubungkan dengan kecamatan Karangtengah.

Salah seorang aparat desa Gebangarum menuturkan pernah ada rencana pembangunan jembatan permanen dari bantuan pusat, namun terkendala oleh birokrasi di tingkat propinsi yang katanya “ harus meminta ijin dahulu sesuai aturan “ untuk membangun jembatan di sepadan sungai.

Sangat ironi kalau memang benar terjadi untuk membangun sebuah jembatan yang menjadi akses vital warga harus melalui tirani “ harus meminta ijin dahulu sesuai aturan “ sementara sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 08/PRT/M/2015 pada pasal 22 ayat (1) menyebutkan larangan mendirikan bangunan di sempadan sungai atau irigasi. Namun fakta yang terjadi ratusan bahkan ribuan bangunan di Demak yang menempati sempadan sungai yang menjadi wewenang tingkat propinsi. Atau dengan kata lain ratusan bahkan ribuan bangunan liar tersebut “ sudah berijin “.