oleh

DJARUM FOUNDATION KUDUS KUNJUNGI MARKAS SIBAT PMI KABUPATEN DEMAK

Jatengtime.com-Demak-Setelah kunjungan silaturahmi Djarum Foundation, Kudus di terima Bupati Demak HM. Natsir yang didampingi Wakil Bupati Djoko Sutanto, Sekretaris Daerah dr. Singgih Setyono M, Kes, Kamis (2/5/2019) di ruang transit Pendopo Kabupaten, rombongan Djarum Foundation, Kudus diajak menuju ke markas Tim Sibat ( Siaga Bencana Berbasis Masyarakat ) PMI kabupaten Demak.

Markas Sibat yang terkenal dengan Ekowisata Rumah Edukasi Silvofishery ( Reduksi ), di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, menjadi salah satu tujuan kunjungan Djarum Foundation, Kudus.

Tiba di Reduksi yang didirikan oleh Palang Merah Indonesia ( PMI ) Kabupaten Demak sejak Januari 2016, Ketua PMI dr. Singgih Setyono M, Kes ( yang juga menjabat Sekretaris Daerah ) menjelaskan kepada Fx Supanji dan rombongan tentang Reduksi yang dikelola anggota Sibat yang juga dikenal sebagai personil DU ( Dapur Umum ) PMI Demak yang tangguh dan teruji dan sudah sering diterjunkan ke beberapa daerah bencana di seluruh Indonesia.

Reduksi unggulan Demak ini berupa kawasan hutan mangrove mini seluas sekitar 1 hektar dengan konsentrasi rehabilitasi hutan mangrove. Kawasan ini menurut dr. Singgih awalnya adalah sebuah kawasan pantai yang rusak, namun berkat kerja keras Tim Sibat, kini menjadi hutan mangrove yang tumbuh lebat dengan jumlah populasi sekitar 127 ribu batang mangrove dari berbagai jenis/ spesies hingga kini menjadi pusat edukasi serta tujuan wisata.

Ahmad Rois dan Muhalim, tokoh Sibat menjelaskan sejarah berdirinya Reduksi ini berawal dari sisa mangrove yang di tanam di Aceh pasca Tsunami 26 Desember 2004. Dari pengalaman Tsunami Aceh membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menanam Mangrove. Kemudian upaya mereka dikaji secara mendalam oleh tim ahli dari IPB termasuk merancang tentang konsep wisata mangrove hingga kemudian berhasil sampai sekarang.

Rombongan Djarum Foundation juga dijamu dengan masakan kas hasil biota laut dan tambak yang menurut pengakuan warga setempat sekarang mudah di temui lagi setelah ada hutan mangrove. Olahan buah mangrove pun sudah bisa dimanfaatkan masyarakat desa untuk menambah penghasilan.

“ Dari upaya rehabilitasi hutan mangrove antara Sibat PMI dan masyarakat, sekarang sudah tampak hasilnya yang langsung bisa dinikmati. Hasil laut dan tambak kembali meningkat karena ekosistem terjaga, masyarakat juga sudah bisa mengolah buah mangrove menjadi beberapa produk unggulan. Dengan kata lain alam ( Pantai ) terjaga, sumber penghasilan masyarakat pesisir makin banyak, merata dan berkah…” ungkap dr. Singgih.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed