oleh

DOKTER YANG DIPECAT DARI IDI, MALAH DITUNJUK JOKOWI JADI MENTERI KESEHATAN

Jatengtime.com-Jakarta-Mayjen TNI dr. Terawan Agus Putranto, yang terkenal dengan panggilan dr.Terawan saat ini menjabat sebagai Kepala RSPAD ( Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ) Gatot Subroto, Jakarta, dipastikan akan menjadi Menjadi Kesehatan (Menkes).

Terawan datang ke Istana Kepresidenan, Selasa (22/10/2019) dengan memakai baju warna putih, sama seperti pakaian yang dikenakan calon menteri lainnya.

  1. Terawan saat ditanya wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, membenarkan bahwa dirinya dipanggil Presiden Joko Widodo untuk menjadi menteri kesehatan.

“ Ya benar (jadi Menkes)…” kata Terawan.

Dokter yang pernah di pecat IDI ( Ikatan Dokter Indonesia ) santer disebut diajak diskusi Presiden Jokowi terkait masalah kesehatan termasuk BPJS. Dan itu diamini dr.Terawan.

“ Iya benar, soal BPJS, soal stunting (Masalah kurang gizi kronis yang dialami balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek/kerdil dari standar usianya)….” katanya.

Dokter yang terkenal sebagai “ dokter cuci otak “ dan masih aktif di militer dengan pangkat Mayjen TNI ini juga menyatakan siap akan mundur dari TNI setelah dilantik Presiden Jokowi sebagai Menteri Kesehatan.

“ Ya harus mundur ( dari TNI ). Begitu dilantik harus mundur…” tegasnya.

Dokter Terawan populer dan viral karena kontroversinya dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena aktivitasnya menjalankan terapi “ cuci otak “ dengan menggunakan alat Digital Substraction Angiography (DSA).

Cuci otak ( flushing ) yang dilakukan dr Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala dan berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke. Salah satu pasien yang sembuh adalah Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Namun IDI menilai terapi yang dilakukan dr Terawan belum teruji secara ilmiah karena DSA sebenarnya alat diagnosis.

Prof Dr dr Moh Hasan Machfoed, SpS(K), MS, yang saat itu menjabat ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) menyatakan analogi yang memojokan Terawan.

“ Sebenarnya DSA alat untuk diagnosis. Di dr T dijadikan alat untuk terapi bahkan prevensi. Analoginya, apa bisa kalau batuk dirontgen terus batuknya sembuh? Itu kan untuk diagnosis…” katanya.

Akibatnya Majelis Kehormatan Etik Kedokteran pada bulan April 2018 mengeluarkan sanksi “ pemecatan sementara “ kepada dr Terawan karena dianggap telah melakukan pelanggaran kode etik.

Kabar pemecatan dr Terawan menjadi viral menarik perhatian berbagai pihak. Dan ternyata banyak dukungan datang untuk dr Terawan.

Akhirnya sanksi etik kedokteran berupa pencabutan izin praktik terhadap dr Terawan ditunda. Terawan kembali melakukan terapi andalanya “ Cuci dengan DSA “ termasuk kepada sekitar 1.000 warga Vietnam sebagai upaya bentuk mempromosikan “ Medical Tourism “.

Metode sederhana cuci otak berbasis radiologi intervensi untuk mengatasi stroke temuan Terawan ini juga merupakan bahan desertasi doktornya di Universitas Hasanuddin, Makassar, dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan pada 4 Agustus 2016.

Terawan menggunakan teknik cuci otak mirip membersihkan saluran gorong-gorong atau pipa air yang tersumbat.

Stroke salah satunya terjadi karena ada sumbatan darah di otak (stroke iskemik), sehingga darah tak mengalir dengan lancar. Sumbatan inilah yang dibersihkan, sehingga pembuluh darah kembali bersih dan bekerja dengan normal.

Terawan berharap penelitian metode pengobatannya ini mampu memberi sumbangsih bagi kemajuan dunia kedokteran di Indonesia.

Agar ilmunya dapat ditularkan, Terawan  mempersiapkan RSPAD Gatot Soebroto sebagai pusat pengembangan tindakan cuci otak dan sudah ada 60 lebih dokter yang tersebar di seluruh Indonesia telah dilatih untuk melakukan tindakan tersebut.

Terawan juga berharap seluruh rumah sakit memiliki peralatan medis untuk melayani pasien stroke di daerah masing-masing.

Dia mengklaim pengobatan ini merupakan yang pertama kalinya digunakan di dunia dan baru Jerman yang mengadopsi tekniknya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed