oleh

NASIB KENDARAAN LISTRIK DUNIA DI TANGAN PRESIDEN JOKOWI

Jatengtime.com-Jakarta-Nikel ternyata adalah mineral yang sangat penting dan berharga di masa depan karena berpengaruh pada perkembangan kendaraan listrik yang akir-akir ini gencar dibuat beberapa negara Eropa maupun China, sejak beberapa tahun terakhir gencar membangun industri kendaraan berbasis listrik yang lebih ramah lingkungan.

Mungkin rakyat Indonesia belum paham bahwa Nikel adalah salah satu logam terbesar dan terpenting dalam pembuatan baterai listrik Lithium-ion, penggerak utama kendaraan listrik.

Nikel adalah bahan dasar yang sangat vital dari baterai Rechargeable Battery (baterai yang dapat diisi ulang), baterai yang saat ini dan mendatang sangat digunakan untuk kepentingan sehari-hari seluruh masyarakat dunia.

Baterai listrik lithium-ion itu, terdiri dari anoda, katoda, dan elektrolit sedangkan Nikel merupakan komponen logam yang utama dalam komposisi baterai listrik, khususnya katoda, yang semakin berkembang seiring pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik.

Kebutuhan akan Nikel diprediksi akan semakin diburu besar besaran karena memiliki penyimpanan daya yang lebih baik sehingga mobil listrik akan memiliki kemampuan jarak tempuh yang lebih jauh.

Berawal pada tahun 2019, produsen baterai mobil listrik di China, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), telah membuat dan memasarkan baterai Lithium Nickel Cobalt Mangan (NCM) 811 dengan komposisi 80 persen nikel, 10 persen kobalt, 10 persen mangan.

Baterai NCM 811 terbukti sangat kuat digunakan pada kendaraan listrik dan disinyalir akan segera dikomersialkan secara luas kepada produsen mobil listrik seperti BMW, Volkswagen dan General Motors (GM).

Dan ternyata upaya meningkatkan kandungan nikel pada baterai mobil listrik NCM 811 semakin dikembangkan oleh produsen hingga tercipta baterai NCM 90 dengan komposisi 90 persen nikel, 5 persen kobalt, 5 persen mangan dan akan diluncurkan pada 2025 atau lebih cepat.

Sedangkan Indonesia ternyata merupakan salah satu produsen dan eksportir nikel terbesar dunia dan menguasai sekitar 27 persen pasar global. Negara produsen nikel lainnya adalah Amerika Serikat, Australia, Bolivia, Brasil, China, dan beberapa negara Afrika.

Namun demikian sangat disayangkan selama puluhan tahun Indonesia seakan sengaja dibuat pihak tertentu hanya mengekspor nikel mentah dengan harga murah.

Melihat peluang besar akan manfaat nikel, Presiden Joko Widodo menentukan sikap tegas dengan melarang eksport biji nikel mentah yang berlaku mulai 1 Januari 2020.

Pelarangan ekspor nikel mentah mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 11 tahun Mineral dan 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Batubara.

Menurut Jokowi, nikel merupakan komoditas mineral yang sangat strategi di pasar dunia bersama timah dan batubara.

Oleh karena itu, lanjut Jokowi, dengan Indonesia mampu mengolah bijih nikel di peleburan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, maka akan mendapatkan keuntungan yang jauh berlipat dari pada mengeksport bijih nikel mentah yang masih berupa tanah.

Dengan mengolah bijih nikel menjadi feronikel saja harganya dapat meningkat dari 55 dollar AS per ton menjadi 232 dollar AS per ton, naik sekitar 400 persen.

Dari salah sumber, ekspor bijih nikel Indonesia ke Uni Eropa mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir, naik signifikan sebesar 18 persen pada kuartal kedua tahun 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017.

China, walau memiliki cadangan nikel yang besar, selama puluhan tahun lebih banyak mengimpor bijih nikel mentah untuk kebutuhan industrinya dari Indonesia karena harganya murah.

Dengan adanya larangan eksport nikel mentah dari Jokowi, Uni Eropa (UE) menyatakan keberatan hingga berujung rencana menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), namun justru Jokowi tak gentar menghadapinya.

“ Ya hadapi. Wong barang kita sendiri koq. Siapkan pengacara terbaik sehingga bisa menangkan gugatan itu. Oleh karena itu perlu dipersiapkan agar tidak hanya melawan balik, tetapi juga dapat memenangkan perkara tersebut…” tegas Jokowi.

News Feed