oleh

3 ANTI VIRUS CORONA BERBASIS EUCALYPTUS BUATAN INDONESIA RESMI DIPATENKAN DAN SEGERA DI PRODUKSI MASSAL

Jatengtime.com-Jakarta-Tiga produk antivirus Corona berbasis tanaman Atsiri (pohon Eucalyptus- https://www.jatengtime.com/2020/05/07/uji-lab-minyak-pohon-eucalytus-bunuh-80-virus-corona-sudah-ditanam-lama-di-balai-konservasi-djarum-foundation.html) untuk pencegahan penularan covid-19 akirnya resmi dipatenkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) yang nantinya akan dikerjasamakan bersama PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang).

Ketiga produk antivirus berbasis Eucalyptus untuk pencegahan penularan covid-19, dan akan di produksi massal setelah mendapatkan nomor registrasi izin edar tersebut adalah :

  1. Aromatik Antivirus berbasis Minyak Atisiri dengan nomor pendaftaran paten P00202003578
  2. Ramuan Inhaler Antivirus berbasis Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003574
  3. Ramuan Serbuk Nano Encapsulated Antivirus berbasis Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003580

Setelah mendapatkan hak paten, maka ketiga produk tersebut akan diproduksi secara massal. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan PT Eagle Indo Pharma sebagai mitra lisensi Balitbangtan Kementerian Pertanian.

Balitbangtan telah melakukan uji coba sejumlah tumbuhan yang berpotensi sebagai anti virus corona, dan hasilnya, disimpulkan tanaman Eucalyptus memiliki kandungan senyawa aktif 1,8-cineole (Eucalyptol) paling efektif menangkal virus corona.

Akirnya beberapa prototype teknologi berbasis minyak eucalyptus sebagai anti virus dihasilkan atas kolaborasi beberapa unit kerja dibawah Balitbangtan.

Kerja sama yang telah disepakati ini dalam bentuk penyerahan lisensi formula hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terkait potensi Eucalyptus secara eksklusif kepada Cap Lang. Produk yang segera akan dibuat berbahan dasar Eucalyptus ini berupa :
– Formula aromatik.
– Ramuan inhaler.
– Ramuan serbuk nanoenkapsulat.
– Minyak atsiri eucalyptus citridora.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry melalui konferensi pers secara virtual, Senin (18/5/2020) menyatakan pihaknya telah melakukan penelitian ilmiah ihwal potensi inovasi Eucalyptus yang bisa membunuh virus beta corona dan gamma corona sebanyak 80-100 persen. Kandungan senyawa aktif berupa 1,8-cineole (eucalyptol) juga disimpulkan mampu bereaksi untuk covid-19.

“ Ini kerja keras semua teman-teman dalam mendorong satu langkah lebih cepat. Terima kasih sudah disambut dengan baik, dan harapan kita semua ini bisa segera tersedia di masyarakat pada umumnya…” kata Fadjry.

Eucalyptus yang sudah dirasakan manfaatnya terhadap pasien positif covid-19 ini, bisa langsung diproduksi massal tanpa perlu melakukan uji klinis seperti pada vaksin dan obat oral.

Produk yang telah dikembangkan Balitbangtan pun hanya perlu dioleskan dan dihirup penggunaannya untuk mencegah tertular virus.

“ Kita perlu cepat sehingga perlu dukungan, kalau melalui mekanisme cukup lama dan ini bukan vaksin atau obat oral seharusnya bukan uji klinis tapi uji efektivitas saja…” ungkapnya.

Dukungan langsung dari Mentri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk menyiapkan data pendukung agar proses perizinan bisa rampung dalam waktu dekat sangat membantu, sehingga proses registrasi izin edar inovasi antivirus berbasis Eucalyptus telah diajukan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“ Kami coba bantu teregistrasi cepat sehingga bisa produksi massal dan kontribusi pada penyebaran covid-19…” pungkasnya.

Dilain pihak, CEO Cap Lang, Susanti Halim menjelaskan bahwa pihaknya berpengalaman sejak lama telah mengolah Eucalyptus menjadi produk kesehatan dan meyakini ampuh sebagai penawar covid-19.

Proses produksi inovasi antivirus yang diteliti Balitbangtan pun bisa langsung dilakukan dengan kesiapan mesin pengolahan miliknya.

“ Dari awal kami sudah lakukan pengembangan Eucalyptus, jauh sebelum pandemi covid-19. Pada saat SARS, kami kembangkan produk spray dan banyak bantu pada 2002…” ungkap Susanti.

Dalam kolaborasi ini, lanjut Susanti, pihaknya mempunyai kewajiban untuk memproduksi produk antivirus dengan supervisi dari Balitbangtan.

Kerja sama ini diharapkan semakin cepat proses pengembangan produk untuk digunakan masyarakat sebagai upaya dalam penanganan pandemi virus korona.

“ Kami berkomitmen mendistribusikan produk ini. Terima kasih atas kepercayaan kepada kami supaya bisa produksi sebagai produk asli Indonesia untuk Indonesia dan dunia pada nantinya…” pungkasnya.

Plt. Sekretaris Balitbangtan Syafaruddin dalam acara Penandatanganan Kerja Sama terkait Lisensi Formula Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus, Senin (18/5/2020) menyatakan Balitbangtan sudah banyak menggulirkan inovasi, teknologi terkait penanganan covid-19.

“ Kita dari Balitbangtan sudah banyak menggulirkan inovasi, teknologi. Nah pada hari ini Alhamdulillah, kita sudah bisa menghasilkan suatu inovasi yang nantinya akan kita tanda tangani bersama dengan PT Eagle Indo Pharma yang berbasis euchalyptus…” kata Syafaruddin.

Syafaruddin menambahkan ada satu lagi produk antivirus yang masih dalam proses pematenan yakni Minyak Sirih Eucalyptus Citriodora dan Eucalyptus Globulus.

“ Satu lagi kita informasikan, kita sedang proses pematenan adalah minyak sirih Eucalyptus Citriodora dan Eucalyptus Globulus sebagai antivirus terhadap Virus Avian Influenza, Influenza subtype H5N1 dan Gamma-coronavirus 1. Insyaallah dalam waktu dekat akan segera jadi paten dan rencananya yang keempat ini akan dikerjasamakan dalam bentuk non ekslusif…” imbuhnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed