oleh

VAKSIN NUSANTARA dr TWERAWAN SEUMUR HIDUP PER DOSIS Rp 140 RIBU

Jatengtime.com-Jakarta-Vaksin anti Covid-19 yang dinamai Vaksin Nusantara produk anak bangsa yang digagas oleh dr Terawan Agus Putranto sejak masih menjabat sebagai Menteri Kesehatan Pemerintahan Presiden Jokowi, diklaim bisa memproduksi kekebalan tubuh yang mampu memberikan perlindungan anti Virus Korona seumur hidup aman untuk segala usia, dapat digunakan untuk anak-anak di bawah 17 tahun sampai usia di atas 60 tahun bahkan penderita penyakit penyerta (Komorbid).

Pengembangan vaksin yang pertama dunia ini, atas kerjasama Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan AIVITA Biomedical Inc di California, Amerika Serikat serta melibatkan peneliti dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Gadjah Mada Jogjakarta dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo.

Dan selanjutnya pengembangan dan uji klinis Vaksin Nusantara dilakukan antara PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip), dan RSUP dr. Kariadi Semarang.

Dalam pengembangan vaksin tersebut hingga masuk ke tahap II fase uji klinis, berbagai proses sudah dilalui, sejak 12 Oktober 2020 dengan penetapan Tim Penelitian Uji Klinis Vaksin Sel Dendritik oleh Kemenkes KMK No. HK.01.07/MENKES/2646/2020.

Tanggal 23 Desember 2020 hingga tanggal 6 Januari 2021 penyuntikan uji klinis fase pertama hingga tanggal 11 Januari 2021.

Kemudian tanggal 3 Februari 2021 dilakukan monitoring dan evaluasi.

dr Terawan belum bisa menargetkan kapan vaksin tersebut bisa siap diedarkan. Namun  dia berharap dengan adanya Vaksin Nusantara, Indonesia bisa sejajar dengan negara lain.

“ Vaksin Nusantara buatan Indonesia. Saya berharap kita bisa jadi sejajar dengan negara lain…”kata Terawan.

Vaksin Nusantara yang membutuhkan prose sekitar seminggu sejak sel Dendritik diambil kemudian diproses dan disuntukan kembali, dikembangkan di dalam negeri dan diproduksi dalam negeri, disebut bakal memiliki harga lebih murah sekitar Rp 140 ribu per dosis karena biaya produksi yang hemat.

Yetty Movieta Nency, anggota Tim Peneliti Vaksin Nusantara menyebutkan harga satu dosis Vaksin Nusantara hanya sekitar US$10 bila telah diproduksi massal.

Dengan demikian harga satu dosis Rp140.044 dalam hitungan kurs Rp14.004,41 per US$.

“ Anggaran penyimpanan, distribusi, penambahan, bisa diminimalisir. Harga satu dosis Rp140 ribuan di kurs Rp14.004,41 per US$…” ungkap yetty.

Yetty menambahkan dikarenakan vaksin berasal dari sel yang diambil dan kemudian disuntikan kembali ke tubuh penerima, kecil kemungkinan menimbulkan infeksi.

Berdasarkan hasil penelitian fase 1 yang bertujuan untuk melihat keamanan vaksin, tidak ditemukan efek berlebihan.

“ Kemungkinan reaksi penolakan lebih rendah. Efek sampingnya minimal, berjalan singkat, dan tak perlu pengobatan…” kata Yetty.

Saat ini penelitian Vaksin Nusantara akan memasuki fase dua untuk melihat efikasinya.

Vaksin Nusantara tergolong aman, dikarenakan tidak ada tambahan bahan maupun komponen binatang terkait status halal vaksin Covid-19.

Karena Vaksin Nusantara ini dendritik bersifat T-cells, sekali suntik berlaku seumur hidup, diproduksi dalam negeri, sehingga anggaran pembiayaan lebih menguntungkan dan tidak menguras devisa negara.

Cara kerja teknis Vaksin Nusantara ini adalah setiap orang akan diambil sampel darahnya untuk kemudian diambil sel Dendritik Autolog (komponen dari sel darah putih) selanjutnya sel Dendritik dipaparkan dengan kit vaksin (antigen dari Sars-Cov-2).

Sel yang telah mengenal antigen akan diinkubasi selama 3-7 hari, kemudian akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap Sars Cov-2.

Metode sel dendritik merupakan metode yang selama ini kerap digunakan untuk pengobatan Kanker hingga penyakit Degeneratif.

Vaksin nusantara yang berbasis sel dendritik diklaim tidak akan mengalami penurunan fungsi ketika virus mengalami evolusi atau mutasi.

Vaksin nusantara tetap dapat digunakan walaupun muncul epidemi hingga pandemi baru di kemudian hari.

Pengujian vaksin selain Vaksin Nusantara biasanya menggunakan metode virus inactivated, mRNA, protein rekombinan, hingga adenovirus.