oleh

87 RIBU ORANG BERKERUMUN DI PASAR TANAH ABANG, PAKAR EPIDEMI : BISA SEPERTI DI INDIA…!

Jatengtime.com-Jakarta-Sekitar 87.000 orang memadati pasar Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (1/2/2021) kemarin “ untuk belanja keperluan lebaran “.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ditemui di Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Minggu (2/5/2021) kepada awak media membenarkan “ kejadian yang tidak terduga “ tersebut.

“ Pak Dirut Pasar Jaya melaporkan kemarin bahwa terjadi lonjakan yang luar biasa hari Sabtu kemarin. Hari Jum’at dan hari-hari biasa itu paling sekitar 35 ribu. Kemarin itu 87 ribu orang yang datang. Jadi memang hari kemarin terjadi lonjakan yang tidak terduga…” kata Anies.

Anies “ mengaku “ telah mengerahkan sebanyak 750 petugas untuk melakukan pendisiplinan juga mengingatkan masyarakat untuk tidak nekat mendatangi suatu lokasi yang berpotensi menjadi kerumunan.

“ Jadi kita butuh dua-dua-nya. Kami siapkan petugas, bagi masyarakat yuk kalau lihat tempat, kalau masuk ke resto lebih atau mendekati 50% jangan masuk. Datang ke sebuah tempat lebih 50% jangan masuk. Jadi kitanya harus ikut menjaga sama-sama…” kilahnya.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, Minggu (2/4/2021) menanggapi pernyataan Anies dan mengaku sangat prihatin dengan kejadian tersebut.

Tri juga menduga akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia setelah Lebaran nanti.

“ Kasus sekarang ini sudah tinggi, kalau terjadi kerumunan lagi di pasar-pasar…waduh rasanya lebaran nanti kita panen (kasus Covid-19)…” kata Miko saat dihubungi detikcom, Minggu (2/4/2021).

“ Dan sangat mungkin risikonya seperti di India…” ungkapnya.

,” lanjutnya.

Miko lantas meminta agar pemerintah lebih serius dalam menangani wabah Covid-19. Karena potensi terjadinya kerumunan seperti menjelang Lebaran harusnya sudah lebih serius diantisipasi oleh pemerintah.

“ Dalam kondisi wabah ini yang tanggung jawab adalah pemerintah, baik pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kota, bertanggung jawab terhadap wabah Covid-19 di Indonesia…” terangnya.

Komisi IX Fraksi PDI-P : Pemprov tak siap dengan kerumunan Tanah Abang.

Rahmad Handoyo Anggota KomisiIX dari Fraksi PDI-P  Rahmad Handoyo dalam keterangannya, Minggu (2/5/2021) mengkritik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani kerumunan di Pasar Tanah Abang.

Keramaian tersebut mestinya bisa diantisipasi lebih awal salah satunya dilakukan sosialisasi ke masyarakat yang akan berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan agar tetap mematuhi protokol kesehatan.

“ Mestinya bisa dikonsolidasikan, dipersiapkan dengan baik menyikapi lonjakan pengunjung ke Tanah Abang…” kata Rahmad.

Rahmad sangat menyayangkan terjadi kerumunan besar di Tanah Abang dan berharap petugas melakukan pengaturan kepada pengunjung yang datang.

“ Saya kira kejadian di Pasar Tanah Abang sangat disayangkan. Mestinya pintu-pintu masuk menuju pasar Tanah Abang bisa direlokasi, dialihkan untuk sementara tidak masuk dulu ke pasar Tanah Abang karena memang situasi tidak memungkinkan. Saya mendesak perlu koordinasi aparat kepolisian dan TNI untuk melakukan penyekatan-penyekatan sampai sore diantisipasi jangan sampai masuk dulu ke Tanah Abang, ini perlu dilakukan…” ungkapnya.

Pemprov DKI juga dinilai perlu berkolaborasi dengan warga Jakarta memerangi pandemi COVID-19. Pemprov, menurut Rahmad tidak boleh lelah mengedukasi, mensosialisasikan masyarakat soal protokol kesehatan.

“ Jangan sampai kerumunan itu terjadi lagi. Ingat, yang paling efektif itu adalah menetapkan prokes. Kita juga himbau warga masyarakat jangan paksakan untuk ke pasar Tanah Abang, atau pasar lain yang sangat ramai…” imbuhnya.

Rahmad juga menuding Pemprov DKI tidak siap dengan kerumunan Tanah Abang.

“ Aparat pemerintah di daerah tidak siap terhadap antisipasi gejolak membludaknya Pasar Tanah Abang. Ketidaksiapan ini terlihat dari tidak adanya penyekatan, tidak ada penutupan pintu-pintu masuk transportasi menuju ke Tanah. Semua baru dilakukan setelah adanya kerumunan yang banyak di area Pasar Tanah Abang…” kata Rahmad.

Rahmad langsung menyuruh Gubernur Anies Baswedan harus bergerak cepat untuk mencegah kerumunan, dan berharap tidak ada lagi penumpukan pengunjung di Pasar Tanah Abang.

“ Kita harus segera konsolidasi, Gubernur, Satgas daerah dan aparat keamanan TNI Polri untuk mengkanalisasi, supaya segera diurai, sehingga tidak sampai terjadi penumpukan pengunjung lagi, apalagi jika sampai sore hari…” ungkapnya.

Kesaksian WNI terkait kegerian korban Tsunami Covid-19 di India.

Moh Agoes Aufiya, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang tengah menempuh pendidikan di Jawaharlal Nehru University (JNU), India, Kamis (29/4/2021) lalu mengatakan warga India yang meninggal akibat Covid-19 karena kesulitan mendapat akses perawatan di rumah sakit.

“ Ketersediaan Covid-19 ICU bed rumah sakit yang ada di kota New Delhi untuk tempat tidur ICU dari 4.821 yang tersedia, yang sudah digunakan atau terpakai 4.803 sehingga hanya 18 tempat tidur ICU yang tersisa…” kata Agoes.

“ Banyak sekali warga India, terutama di kota New Delhi mencoba melakukan perawatan, di rumah sakit ini sudah overload, tidak bisa menampung lagi…” ungkapnya.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di New Delhi menghimbau Agoes dan WNI lainnya untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, namun masih diperbolehkan untuk membeli kebutuhan makanan di toko-toko dekat rumah.

“ Sekarang (lockdown) diperpanjang 27 April-3 Mei. Sepertinya akan terus berlanjut jika kasus terus meningkat. Tidak semua orang bisa keluar dari rumah, hanya beberapa penting saja seperti membeli sembako, sayur-sayuran, buah-buahan. Kalau ingin keluar rumah harus menggunakan e-Pass atau izin tertentu diperkenankan pemerintah…” imbuhnya.

Sebelumnya, kasus Covid-19 di India yang dijuluki “ Tsunami Covid-19 “ kian mengganas. Ratusan ribu orang dilaporkan tertular virus Corona setiap harinya.

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India (dilansir Hindustan Times) pada Sabtu, (30/4/2021) dilaporkan sedikitnya 401.993 kasus Covid-19 dalam satu hari. Sehingga, total kasus virus corona di India sejak pandemi dimulai tercatat 19,1 juta kasus.

Dalam 24 jam terakhir 3.523 orang tercatat yang meninggal karena virus corona. Sehingga, total kematian akibat Covid-19 di India sebanyak 211.853 jiwa.

Sebanyak 299.988 pasien diperbolehkan pulang dalam 24 jam terakhir dan sejauh ini 15.684.406 orang telah sembuh dari Covid-19.

Juga dilaporkan 10 negara bagian yang menyumbang kasus Covid-19 paling banyak. Ke-10 negara tersebut adalah Maharashtra, Karnataka, Uttar Pradesh, Kerala, Rajasthan, Gujarat, Chhattisgarh, Andhra Pradesh, Tamil Nadu, dan West Bengal.

Pemerintah India menyatakan keprihatinannya atas lonjakan kasus Covid-19 yang sangat drastis dalam beberapa hari terakhir.

Di ibu kota India, New Delhi, rumah sakit menghadapi kekurangan oksigen yang parah. Bantuan AS ke India tiba, memasok kebutuhan Tes Covid-19 dan Masker.

Pemerintah India sejak Jum’at lalu mulai mengimpor Remdesivir digunakan untuk pengobatan infeksi Covid-19 dan juga tengah menerapkan lockdown.

Organisasi Muslim di India memutuskan untuk membantu juangan melawan tsunami Covid-19 yang bertepatan dengan Ramadhan.

Umat Islam di beberapa wilayah di India mengubah masjid dan madrasah menjadi fasilitas perawatan Covid-19 untuk membantu pasien.

Di negara bagian Gujarat, Madrasah Darul Uloom di kota Vadodara telah diubah menjadi fasilitas perawatan Covid-19 dengan fasilitas perawatan Covid-19 yang terdiri dari tempat tidur yang dilengkapi oksigen dan bangsal isolasi di dalam sekolah.

Sebagian masjid di Vadodara juga telah diubah menjadi fasilitas perawatan pasien Covid-19 dan menyewa dokter untuk mengelola 50 tempat tidur.

Para ulama India mengumumkan bahwa mereka mendirikan pusat isolasi untuk pasien. Beberapa kelompok Muslim juga menyediakan nomor telepon bantuan untuk memberikan petunjuk tentang tempat tidur dan persediaan oksigen.

Organisasi Mahasiswa Islam India, sayap mahasiswa dari organisasi sosial-keagamaan Jamaat-e-Islami, menyatakan pihaknya juga mulai turun tangan membantu pasien Covid-19 sejak sepekan lalu.

Sebuah ruang kontrol di New Delhi dengan 30 orang yang berjibaku sepanjang waktu untuk membantu pasien, membantu orang menemukan tempat tidur, suplai oksigen, dan obat-obatan seperti Remdesvir.

 

News Feed