oleh

PENTOLAN HAMAS KHALED MASHAL, HIDUP MEWAH DI QATAR BERHARTA Rp 36,4 TRILIUN SEMENTARA RAKYAT PALESTINA JADI TUMBAL

Yerusalem-Jatengtime.com-Aljazeera/JerusalemPost/tr-01-IG nixon_parapat- Khaled Mashal adalah tokoh penting kelompok teroris Hamas Hamas, tak bisa dipisahkan dari kelompok teroris Hamas yang berperan besar dalam konflik dengan Israel di Gaza, Palestina.

Tahun 2009 Yordania, Inggris, Jerman, Jepang, Kanada, Israel, telah menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris.

Khaled Mashal yang lahir di Silwad, bagian Utara Ramalah, Palestina, 28 Mei 1956 disebut merupakan aktor utama yang memegang kendali dalam setiap aksi Hamas mengganggu kedaulatan Israel, namun hidup bergelimang harta dibalik penderitaan rakyat Palestina.

Khaled hidup mewah di Doha, Qatar, berdasarkan perhitungan para analis terorisme memiliki dengan total kekayaan pribadi tahun 2020 mencapai US$2,6 miliar atau setara dengan Rp36,400 triliun.

Ditengarai lingkaran bisnis cerdas dan menggiurkan Khaled Mashal bersama komplotan Hamas lainya yang justru hidup mewah diluar Palestina akan terus bertambah, ketika muncul konflik di Gaza dan munculah proyek agitasi (membuat kontradiksi atau pertentangan dalam dengan tujuan menimbulkan kegelisahan dikalangan massa) berupa penderitaan rakyat Palestina dengan berbagai bentuk audio visual palsu.

Disinyalir dari rumah mewahnya di Doha, Qatar, Khaled dengan sebuah alasan memerintahkan pasukanya menyerang Israel dengan roket, kemudian dibalas Israel yang dipastikan menimbulkan korban warga sipil palestina di Gaza. Propaganda agitasi mulai dilancarkan.

Minggu, 16 Mei 202, pukul 18.00 WIB, jaringan televisi berita berbasis di Doha, Qatar, Al Jazeera (aljazeera.com) melaporkan serangan rudal yang menewaskan 170 orang warga Palestina di Gaza, 41 orang di antaranya anak-anak, dan warga Israel dilaporkan 10 orang tewas.

Konflik di Gaza dipastikan akan berbeda klaim antara versi Hamas dan Israel, siapa yang mengawali melakukan serangan.

Hamas atas nama rakyat Palestina akan mengaku diserang Israel terlebih dahulu, demikian sebaliknya.

Namun yang jelas dunia internasional terhasut mengecam Israel, disisi lain pihak-pihak tertentu sengaja melakukan penggalangan dana mengatas-namakan peduli rakyat Palestina, nama perjuangan Palestina melawan penjajahan Israel.

Hasilnya masyarakat dari berbagai negara yang simpati, namun tidak mengerti sangat rumitnya permasalahan politik yang terjadi di Tumur tengah termasuk Palestina akan mengumpulkan donasi dan masuk satu pintu, yaitu Khaled Mashal.

Diperkirakan uang hasil donasi tersebut dibagi menjadi sekitar 40 persen untuk membeli senjata, biaya pelatihan militer, mendidik tenaga perakit roket dan bom.

60 persen sisanya, untuk biaya hidup mewah Khaled Mashal dan petinggi Hamas lainnya yang hidup di luar negeri.

Israel dan Amerika Serikat, terus melakukan berbagai upaya memutus mata rantai jaringan Khaled Mashal dan Hamas salah satunya dengan cara Israel membuka hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Maroko, dan Saudi Arabia.

Tahun 2017, Arab Saudi mendesak Qatar, agar segera menetapkan Hamas dan ekstrimis Suni sebagai organisasi teroris, akan tetapi ditolak Qatar.

Walaupun menjadi anggota Liga Arab yang mayoritas beranggotakan negara-negara Islam Suni, namun Qatar yang mayoritas penduduknya adalah Islam Suni, justru dekat dengan Iran. Tapi para penguasa dan orang-orang kaya (para syeik) adalah kalangan Islam Syiah.

Hubungan yang dinilai banyak kalangan aneh, antara Suni dan Syiah di Qatar ini sangat mempengaruhi Hamas.

Ketika Liga Arab mengumumkan bahwa kelompok Syiah Hizbullah di Libanon sebagai kelompok teroris, Hamas yang merupakan kelompok ektrimis Suni adalah penentang terbesar.

The Jerusalem Post, menyebutkan, agen intelijen Mossad Israel, sejak Maret 2021, sudah mencium gelagat Khaled Mashal, akan membuat ulah, memanfaatkan bulan suci Islam (puasa) dan menghadapi Idul Fitri 1442 Hirjiah (Kamis, 13 Mei 2021).

Analisis Mossad sebagaimana reportase Al-Monitor, sebuah program televisi bertajuk “ What is Hidden is Greater ” yang disiarkan saluran Qatari Al Jazeera, Minggu, 13 September 2020 mencium ada upaya keterlibatan intelijen Rusia, China dan Iran untuk memanfaatkan Hamas.

Al Jazeera, sebuah jaringan televisi berita berbasis di Doha, Qatar, menampilkan cuplikan eksklusif penampakan pertama keberadaan gudang senjata Hamas di Gaza, pasca bentrok dengan Israel tahun 2014.

Dalam rekaman video berisi jurnalis Palestina (yang menjadi pembawa acara) Tamer al-Mashal, dipandu Kepala Biro Politik dan Panglima Hamas, Ismail Haniyeh memperlihatkan sejumlah anggota sayap bersenjata Hamas, Brigade Izz al-Din al-Qassam, memperlihatkan rudal Fajr buatan Iran, rudal 9M133 Kornet buatan Rusia, dan sejumlah senjata panggul produksi China.

The Jerusalem Post, mengutip sumber dari Mossad menyebutkan bahwa Khaled Mashal, sengaja memanfaatkan sensififitas umat Islam berupa konflik antara Israel dengan palestina di Jalur Gaza selama bulan suci Islam (puasa) dan menghadapi Idul Fitri 1442 Hirjiah.

Otoritas berwenang Israel kawatir Hamas akan memanfaatkan situasi di balik ibadah umat Islam dan sempat melarang warga Palestina melakukan salat tawarih di Masjid Al Aqsa, Yerusalem timur, selama bulan suci ramadhan (13 April – 13 Mei 2021).

Kekawatiran Israel memang menghindari konflik (walaupun beda penangananya), sangat beralasan karena berdasarkan pengalaman bentrok antara Israel dan Hamas yang pernah terjadi pada periode 6 – 16 Juli 2014 lalu menyisakan duka yang teramat dalam dan tidak akan terlupakan dari sejarah kelam dunia .

Tragedi bentrok antara Israel dan Hamas selama 10 hari mengakibatkan 1.880 orang, 398 di antaranya anak-anak, 207 wanita, 74 orang usia lanjut warga Palestina dilaporkan tewas dan 10.000 lainnya cedera.

Santer disebut konflik antara Palestina dan Israel kali ini dipicu rentetan implikasi yang kemudian menjadi inti konflik terbaru, dimulai rencana eksekusi putusan Pengadilan Negara Israel untuk memerintahkan pengosongan rumah warga Palestina di wilayah Sheikh Jarrah, Jalur Gaza, Palestina yang diklaim sebagai wilayah Yahudi Israel yang dimiliki asosiasi agama mereka sejak sebelum 1948.

Dilain pihak, keluarga Palestina mengklaim tanah di Sheikh Jarah secara historis adalah milik mereka.

Bentrokan yang dikawatirkan sebelumnya bakal terjadi antara Israel dan Hamas benar-benar  terjadi.

Jum’at 7 Mei 2021 malam, polisi Israel dengan granat kejut dan peluru karet tanpa diketahui penyebabnya menyerang jamaah yang sedang shalat di Masjid Al-Qiblatain di dalam Al-Aqsa dengan granat kejut dan peluru karet.

Sejumlah pemuda Palestina membalas dengan melempari tentara Israel menggunakan batu dan botol kaca.

Bentrokan berlanjut antara pasukan keamanan Israel dan warga Palestina yang mencoba memasuki Al-Aqsa melalui (salah satu pintu gerbang masjid) Bab Al-Silsila.

Akibat bentrokan ini ratusan warga Palestina di sekitar Masjid Al Aqsa, mengalami luka-luka dan puluhan  dilarikan ke rumah sakit.

Intervensi yang dilakukan polisi Israel juga menyerang pemuda Palestina di depan gerbang Damaskus dan Es-Sahire Kota Tua yang menimbulkan kepanikan di kalangan perempuan dan anak-anak.

Polisi kemudian mengizinkan lintas di jalan yang dikendalikan melalui gerbang Kota Tua.

Intervensi secara berkala mereka terhadap umat Islam di masjid, sementara jemaah terus melakukan tarawih, salat malam khusus selama bulan suci Ramadhan.

Senin 10 Mei 2021 siang, adalah peringatan momen hari Yerusalem tahun 1967 dan sudah resmi dilarang polisi Israel, dikarenakan ada potensi bentrok, tapi warga Israel sudah terlanjur berkerumun di dalam Kota Tua Yerusalam.

Ratusan nasionalis Israel direncanakan melakukan parade pertunjukan patriotisme dengan bendera, melewati Yerusalem dan kawasan Muslim lainnya. Namun bagi rakyat Palestina, parade tersebut adalah provokasi.

Kaum nasionalis Israel diberi akses ke Kuil Gunung (Temple Mount) yang satu kompleks dengan Masjid Al Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam.

Dugaan Mossad tepat, usai bentrok antara israel dan warga Palestina, bakal ada gerakan Khaled Mashal memperalat Hamas dan terjadi serangan 160 roket milik pejuang Hamas dari Jalur Gaza, secara beruntun ke arah kerumunan warga Israel di Yerusalem timur.

Akibat serangan 160 roket milik Hamas, The Jerusalem Post menulis “ Hamas memang licik memanfaatkan momentum ”.

Perdana Menteri Israel, Banyamin Nyetanyahu, menegaskan, Israel, sebagai sebuah negara berdaulat, berhak membela diri setiap diserang dan berhak pula melakukan serangan balik ke jantung pertahanan Hamas di Gaza, Palestina.

Israel Defense Forces (IDF) dari matra Israeli Air Forces (IAF), lantas membalas serangan jauh lebih intensif ke Gaza sejak Senin 10 Mei 2021 siang.

Hamas memang lahir dari ideologi Wahabi dan bagian tak terpisahkan dari jaringan Ikhwanul Muslimin (IM) dan The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Konflik di Palestina adalah murni antara Israel dan Hamas.

Pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, Dr Yulius Yohanes, M.Si, mengatakan konflik yang terjadi dipalestina sekarang, sama sekali bukan konflik antara Israel dan Palestina, tapi murni konflik antara Israel dan Hamas.

Setelah mencermati konflik Israel dan Hamas tahun 2014 dan terjadi lagi sejak Senin, 10 Mei 2021, maka ada anggapan sementara pihak bahwa Israel merupakan proxy Amerika Serikat, dan Hamas sebagai proxy Federasi Rusia, China dan Iran.

Dan fakta menunjukkan setiap kali ada konflik, Hamas selalu berlindung di tengah kerumunan warga Palestina.

“ Dalam banyak fakta, patut diduga ada pihak di balik Hamas setiap kali konflik dengan Israel. Harus pula diklarifikasi secara jujur, atas dugaan selama ini, senjata rudal yang digunakan Hamas adalah produksi Federasi Rusia, China dan Iran. Saya pikir, sekarang, dunia internasional, harus menghentikan, tindakan mengorbankan masyarakat, manusia tidak berdosa di Timur Tengah, untuk kepentingan pragmatisme ekonomi, dan lain sebagainya…” kata Yulius. (dari berbagai sumber : Aljazeera/JerusalemPost/tr-01- IG nixon_parapat).