oleh

ATASI BANJIR ROB, KADIN PU TARU DEMAK USULKAN FUNGSIKAN SUNGAI SEBAGAI KANTONG AIR DAN JALAN SEBAGAI TANGGUL LAUT

Jatengtime.com-Demak-Dampak banjir rob beberapa pekan lalu yang mambanjiri pesisir Jawa termasuk di Kabupaten Demak yang meliputi empat kecamatan antara lain, Sayung, Karang Tengah, Bonang dan Wedung menjadi perhatian serius pemerintah pusat.

Direktur Sumberdaya Air Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Abdul Malik Sadat Idris saat meninjau langsung daerah terdampak rob di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak, yang dinilai sudah sangat mengkhawatirkan, Selasa (21/6/2022) petang menegaskan pemerintah saat ini serius untuk merealisasikan berbagai upaya guna menanggulangi banjir rob, salah satunya pembangunan tanggul laut.

“ Pemerintah pusat melalui kementerian PUPR akan membantu, ( masalah banjir rob Demak ), dikarenakan masalah ini sudah menahun dan mudah-mudahan periode desain ini bisa kita selesaikan di tahun depan ( 2023 )…” kata Malik.

Kunjungan Direktur Sumberdaya Air Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Kota Wali ini didampingi langsung Bupati Demak dr. Hj. Eisti’anah, S.E, Kadin PU TARU Akhmad Sugiharto ST, MT dan bebrapa pejabat terkait lainya juga menyatakan bahwa dalam mengatasi permasalahan rob di Demak tidak mungkin pemerintah pusat dapat menyelesaikan sendiri tanpa ada dukungan dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kementerian PUPR.

Masalah Rob merupakan program RPJMN ( Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ) bahwa pengendalian terpadu pantai Utara Jawa harus dikerjakan bersama secara serius.

“ Permasalahan rob di kabupaten Demak adalah skala permasalahan yang besar dan menjadi fokus pembicaraan ditingkat nasional. Oleh sebab itu rencana ini harus dijalankan sebaik mungkin, dan tentunya didukung semua pihak…” ungkapnya.

“ Semoga program RPJMN dapat segera dikerjakan, kasihan masyarakat Demak sudah sepuluh tahun ini mengalami banjir rob setiap harinya…” pungkasnya.

Sementara itu Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E menyambut baik rencana pembangunan tanggul laut yang diinisiasi oleh Sumberdaya Air Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Menurut Eisti dengan dibangunnya tanggul laut diharapkan menjadi salah satu upaya penanggulangan rob yang dialami warganya selama kurun waktu sepuluh tahun terakir.

“ Tentunya kami sangat berterima kasih dengan kedatangan tim dari Bappenas untuk meninjau langsung dilapangan. Kami sajikan  daerah mana yang terdampak  rob, Bapennas menyerahkan sepenuhnya pengadaan lahannya kepada pemerintah daerah dan untuk pembangunannya yang diperkirakan mencapai 150 miliar rupiah akan diusahakan oleh pemerintah pusat…” kata Eisti.

Nantinya, lanjut Abdul Malik, ada beberapa opsi, termasuk memanfaatkan jalan kabupaten yang rusak dan tenggelam akibat diterjang rob difungsikan sebagai jalan sekaligus tanggul laut. Dari kajian Bappenas tanggul laut tersebut diperkirakan panjangnya mencapai lima belas setengah meter.

Jalur kabupaten sepanjang pantai Utara yang kondisi sekarang rata dengan laut, kedepannya akan difungsikan kembali. Selain sebagai jalur ekonomi juga difungsikan sebagai tanggul laut.

Mengingat jalan tersebut masih ada yang berstatus milik masyarakat, pemerintah kabupaten Demak agar segera mengurus permasalahan pembebasan tanah milik warga agar proses pengerjaannya dapat segera terealisasikan.

“Semoga program RPJMN dapat segera dikerjakan, kasihan masyarakat sudah sepuluh tahun ini berjibaku dengan air pasang setiap harinya,” kata  Abdul  Malik.

Sementara itu Bupati Demak, Eistianah, menyatakan menyambut baik rencana pembangunan tanggul laut yang diinisiasi oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( Bappenas ).

Menurut Bupati dengan dibangunnya tanggul laut tersebut diharapkan bisa mengatasi dampak banjir rob yang dialami warganya.

“ Kami sajikan  daerah mana yang terdampak  rob, dan kami ajak  tim  dari Bappenas untuk meninjau langsung ke lokasi tersebut. Bapennas menyerahkan sepenuhnya pengadaan lahannya kepada pemerintah daerah dan untuk pembangunannya yang diperkirakan mencapai 150 miliar rupiah akan diusahakan oleh pemerintah pusat,”  ungkap Eistianah.

Kadin PU TARU usulkan normalisasi sungai dan jadikan jalan desa sebagai tanggul laut.

Menanggapi kunjungan Direktur Sumberdaya Air Kementeriaan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Abdul Malik Sadat Idris dan rombongan tersebut, Kadin PU TARU Demak Akhmad Sugiharto ST, MT dalam bincang santai di Resto Joglo Kembar komplek Wisma Halim, Rabu ( 22/6/2022 ) pukul 13.00 WIB menyatakan rasa terimakasih pemerintah pusat yang sangat peduli dengan banjir rob dipesisir Kota Wali.

Akhmad Sugiharto juga menyinggung soal efak banjir rob yang menjadi bahan postingan dimedsos dengan beragam tanggapan pro kontra.

“ Kunjungan tim Bapermas ke Demak kemarin tentunya membawa angin segar, setidaknya kita mengetahui masalah rob ini sudah menjadi salah satu perioritas penanganan utama pemerintah pusat. Tentunya apresiasi dari pemerintah pusat ini harus kita dukung bersama…” kata Sugiharto.

“ Beragam tanggapan di medsos adalah hal yang biasa dan selayaknya menjadi bahan kajian kita semua. Tidak relevan jika medsos dijadikan sarana untuk saling menyalahkan atau malah memojokan pemerintah. Ini adalah masalah serius yang harus ditangani bersama, baik pemerintah pusat, propinsi, kabupaten hingga masyarakat. Saat ini yang dibutuhkan adalah kerja bareng dan nyata dalam mengatasi masalah rob…” ungkapnya.

Pria yang sudah bertahun-tahun menjalin kerjasama program kemanusiaan dan lingkungan dengan Djarum Foundation Kudus ini memaparkan bahwa beberapa waktu lalu dirinya melakukan diskusi dengan Senior manager Public Djarum Foundation Purwono Nugroho.

Purwono Nugroho menyarankan kepada Kadin PU TARU Demak Akhmad Sugiharto ST, MT untuk menjadikan analisa Pakar Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas yang memprediksi tiga wilayah di Jawa Tengah yaitu Pekalongan, Semarang, dan Demak diperkirakan akan tenggelam akibat penurunan permukaan tanah.

Pak Ipung ( panggilan akrap Purwono Nugroho ) menilai pernyataan pakar geodesi ITB itu layak dijadikan sebagai masukan atau bahan bagi pemerintah guna mengambil kebijakan untuk mengatasi persoalan Land Subsidence atau penurunan tanah.

“ Pernyataan pakar ITB tersebut monggo jika dijadi masukan atau pertimbangan bagi pemerintah. Bagaimana kedepan membuat kebijakan yang bisa mengatasi persoalan land subsidence. Jika benar pernyataan pakar ITB yang menyebut terjadi penurunan tanah mencapai lebih dari 10 sentimeter (cm) setiap tahunnya, layak untuk diwaspadai dan tentunya segera dicarikan solusi mengatasinya…” kata pak Ipung.

“ Dari berbagai kajian dan track record sosok Kadin PU TARU Demak yang selama ini bekerjasama dengan Djarum Foundation, dan pastinya harus didukung oleh berbagai pihak terkait, kami yakin masalah ini bakal teratasi…” pungkasnya.

Akhmad Sugiharto juga menyambut baik saran dari Djarum Foundation agar segera menjadi bahan kajian bersama dan bukan menyerah dengan alam.

Pria yang ternyata mendapat gelar S2 di ITB ini memaparkan sebuah usulan teori sederhana dalam upaya ikut sumbangsih pemikiran.

Teori sederhana menurut Sugiharto adalah dengan membuat fungsi sungai sebagaimana mestinya dan bebas sedimentasi serta peninggian tanggul sungai.

“ Kita ibaratkan sebuah sungai adalah sebuah gelas dengan volume 1 liter dan akan diisi air sejumlah 1 liter. Namun karena gelas tersebut ternyata sudah terisi endapan ( Sedimentasi ) sejumlah setengah liter, kemudian air 1 liter tersebut diisi kedalam gelas tersebut. Apa yang terjadi…? Tentu gelas tersebut tidak mampu menampung air sejumlah 1 liter…” kata Sugiharto.

Kepala dinas yang juga menjabat sebagai Ketua PPBI ( Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia ) ini juga mengusulkan untuk memaksimalkan jalan-jalan kabupaten dijadikan tanggul laut.

“ Jalan-jalan kabupaten baik yang sudah tergenang maupun yang belum tergenang rob kita jadikan tanggul laut. Caranya dengan meninggikan jalan-jalan tersebut. Lebih baik lagi jika dibuat pintu air yang bekerja secara otomatis ( pintu kelep ). Mekanismenya ketika air pasang, pintu air dari arah laut tertutup karena dorongan air laut sehingga tidak membanjiri permukaan air di bagian pemukiman dan sebagainya. Kemudian jika permukaaan air laut normal, pintu air akan terbuka sehingga air yang ditampung disungai mudah mengalir ka laut…” ungkapnya.

Untuk mengurangi rob di Kabupaten Demak dengan cara peninggian jalan kabupaten dan normalisasi sungai sekaligus peninggian tanggul sungai menurut Sugiharto memang dibutuhkan dana yang relatif besar.

“ Dengan peninggian jalan kabupaten yang sekaligus berfungsi sebagai tanggul laut dan normalisasi sungai di hilir diharapkan memberi ruang untuk air rob biar melewati sungai yang sudah normal, kita jangan menghambat aliran air rob tapi memberi ruang untuk datang dan perginya air rob. Peninggian jalan tidak harus dengan tanah dari atas tapi bisa memanfaatkan tanah setempat yang ada disekitar jalan agar alam tidak rusak sekaligus untuk memberi ruang yang lebih untuk air laut…” paparnya.

“ Kemudian yang tidak kalah penting, kita ajak masyarakat bersama-sama selalu aktif menjaga lingkungan tanggul laut ini dengan menanam pohon penahan abrasi seperti Mangrove dan selalu menjaga kelestarianya…” imbuhnya.

“ Memang semua itu butuh dana besar, namun kalau semua ini sudah bisa dikerjakan, sungai dinormalisasi dengan segala fungsinya ( kedalaman dan lebarnya ), jalan-jalan desa menjadi tanggul laut buatan dan hamparan pohon Mangrove yang ditanam warga menjadi hutan mangrove pelindung abrasi, diharapkan masalah banjir rob akan teratasi…” pungkasnya.